Sore Seru Bersama Hira Apparel #WearHira

Seminggu yang lalu saat lagi sedih-sedihnya meratapi nasib karena libur Lebaran udah mau selesai, tiba-tiba saya dikontak oleh salah satu teman SMA saya, Raina. Raina ini anak jurusan fashion dan saat ini lagi sibuk membangun bisnis clothing miliknya, namanya Hira Apparel. Saya diajak jadi salah satu talent photoshoot untuk modest lookbook brand-nya ini.  Tawaran yang menarik! Mumpung lagi liburan juga. Awalnya saya nggak pede dan bilang sama Raina kalau saya nggak pernah jadi model fotosyut macam ini.. Nggak jago pose-pose! Taunya Raina bilang nggak masalah, dan karena pada dasarnya saya memang orangnya ayok-ayok aja alias ‘mure’ senang mencoba hal baru, akhirnya saya iyain deh!

Hari Kamis sore saya janjian ketemuan dengan Raina dan Tami, duo partner Hira Apparel di daerah Kebayoran. Sampai disana, sudah hadir pula Eja, sang fotografer yang dulunya satu sekolah juga dengan saya di SMA 8. Saya langsung kasih disclaimer ke Eja “Eh Ja, gue belum pernah nih foto pose-pose begini.. Jadi ya mohon dibantu deh ya,” Kata doi “Wah, yaudah kita kerjain aja nih mumpung belom pernah,”

Sialan.

Sebelum diajak foto ini, saya udah pernah beli beberapa baju dari Hira Apparel, dan saat ini jadi baju yang paling sering saya pakai sehari-hari. Sebetulnya Hira Apparel ini bukan lini modest clothing, tapi kebanyakan desainnya cukup modest. Untuk desain yang potongannya lebih terbuka seperti sleeveless top-nya malah jadi favorit saya karena seru untuk dipadupadankan dengan kemeja sebagai dalaman atau dipakaikan outerwear diluarnya.

IMG_2665.JPG
Pose benerin jarum pentul.
FullSizeRender.jpg
Kimono putih dengan aksen kain tenun. Pas banget untuk di pair dengan kemeja putih dan jeans, oh so me ❤

IMG_2676.JPG

DSC03185.JPG
Bisa di pair sama apa aja kalau yang ini.

Saya selalu tertarik dengan fashion item yang menggabungkan konsep modern dan unsur-unsur khas Indonesia. Makanya saat saya liat Hira Apparel ngeluarin desain kimono yang ada motif tenunnya, saya langsung suka. Buat temen-temen yang pakai jilbab juga pasti tau outerwear macam kimono gini tuh paling gampang buat di mix and match dengan berbagai baju yang udah kita punya. Selain kimono, ada juga beberapa model atasan tangan buntung yang pakai unsur kain tenun.

IMG_2681.JPG
Atasan sleeveless tenun ini dijadiin luaran, dalemannya pakai kemeja putih.

Quality-wise, menurut saya bahan yang dipakai di produk-produknya Hira Apparel cukup bagus dan nyaman. Saya bisa langsung lihat kalau bahan yang dipakai kualitasnya oke. Jaitannya juga oke. Kalau ngomongin harga tentunya ada harga ada barang, bagi saya pribadi range harganya sepadan dengan kualitas produknya. Saat ini Hira Apparel baru available online aja, tapi kadang-kadang juga suka buka booth di bazaar gitu. Cek aja Instagramnya untuk tau update dari mereka.

All in all, terima kasih ya tim Hira Apparel udah ajak saya jadi salah satu talent-nya. Kapan-kapan ajak lagi ya. Loh, jadi nagih.

Instagram: @hira.apparel

Photo by: @fauzimreza

White on White

Ever since I started wearing hijab a month ago, wedding invitations have become a first world problem merely because I don’t know what to wear! I’ve decided earlier that I would not spend too much money to buy new set of modest clothing, rather I’d try to get more creative with the ones I already have.

Yesterday I have finally attended my first ever wedding invitation with my hijab on. After taking almost the entire clothes out off my closet, and successfully transformed my bedroom into a war zone, here’s the look I wore to the wedding.

Alda - White on White (1)

Alda - White on White (2)

Top: Mom’s | Pants: Zara | Necklace: Mom’s | Hijab: Self made | Purse: Salvatorre Ferragamo | Shoes: Badgley Mischka

 

 

 

Three Days in Lombok (Part 2)

Setelah check out dari Jeeva Beloam Beach Camp, kita bertiga melanjutkan perjalanan ke Senggigi. Jarak antara Lombok Timur dan Senggigi ternyata jauh juga, lho! Sejauh apa? Mari lihat peta dibawah ini:

Beloam - Senggigi
Dang! Jauh cuy!

Kali ini Yayang yang kebagian jadi pak supir, gue jadi navigator, dan Icha di belakang jadi DJ yang bertugas untuk memastikan lagu-lagu asik selalu terputar selama perjalanan. Kalau menurut Google Maps, perlu waktu sekitar 2.5 jam untuk sampai ke Senggigi dari Lombok Timur.

Akhirnya setelah hampir tiga jam perjalanan, sampai lah kita di tempat menginap selanjutnya yaitu Svarga Resort Lombok! Kalau dibandingin sama Jeeva Beloam, kali ini tempatnya modern banget ala-ala resort bagus di Bali gitu. Gue pribadi suka banget sama arsitektur interiornya yang walaupun modern tapi tetep kerasa kental budaya Indonesianya #duile

Svarga Resort 2

Svarga 4

Svarga Resort 1

Kamarnya juga oke. Ukurannya cukup besar, ada living roomnya juga. Tapi bagian favorit gue adalah kamar mandinya! Konsepnya alam terbuka dan dominan sama warna-warna earth tone gitu, terus ada bathtub gede yang style-nya ‘Pinterest’ banget.

Perfect for bubble bath + Spotify -> search -> playlist -> Majestic Casual #wedee

Setelah taro koper di hotel dan bersih-bersih sebentar, kita langsung cus untuk ngeliat sunset di Bukit Merese. Lokasinya cukup jauh, kira-kira satu jam dari Svarga Resort. Sesampainya di Bukit Merese, kita langsung buru-buru naik ke atas karena udah hampir waktunya sunset. Gue suka nih nanjak di bukit ini soalnya nanjaknya nggak banyak jadi nggak capek-capek amat hahaha.

Let me tell you, guys… Gila! Di atas Bukit Merese pemandangannya luar biasa indah! Bukitnya tuh ada banyak, berlapis-lapis warna ijo. Dari atas bukit kita bisa lihat pemandangan pantai dan laut lepas. Kalau lihat foto dibawah kayaknya kamera gue kurang bisa menangkap warna asli langit di Bukit Merese menjelang sunset. Padahal kalau liat langsung, langitnya campuran warna ungu dan pink gitu!

DSC02566

DSC02565
Kerbau-kerbau montok *moo*

DSC02587

DSC02593
Love them both ❤

DSC02574

***

Nggak kerasa udah hari terakhir di Lombok! Sebelum sorenya ke Bandara, kita nyempetin berkunjung ke satu desa wisata yang direkomendasiin oleh Icha, namanya Desa Sade. Dari sebelum sampai Lombok Icha udah berkali-kali ngomong “Lo semua harus ke Desa Sade! Itu bagus banget desanya, lo pasti suka. Pokoknya HARUS” Oke oke Cha, ini kita dijalan kesana nih!

Sampai disana langsung ada satu tour guide yang nyamperin dan menawarkan diri untuk nganterin kita keliling di dalam desa. Menariknya, tour guide-nya juga warga asli Desa Sade, jadi beliau tau persis budaya dan cerita-cerita unik warga desa disana.

Bener sih kata Icha, tempat ini emang wajib buat dikunjungi. Karena nggak cuma isi desanya aja yang menarik, cerita-cerita dari tour guide-nya juga menarik banget. Gue cukup kaget pas denger di tahun 2017 gini masih banyak orang yang punya kehidupan kayak orang-orang penghuni Desa Sade ini.

Misalnya, kalau di Desa Sade nggak boleh ada yang namanya keluarga laki-laki melamar ke keluarga perempuan. Ngelamar malah dianggap merendahkan derajat keluarga perempuan. Jadi kalau ada laki-laki yang mau menikahi perempuan dari Desa Sade, mereka harus milih antara kawin lari atau kawin culik. Pihak keluarga perempuan nggak boleh ada yang tau tentang rencana pernikahan itu. Bahkan kalau sampai ketawan pernikahan terpaksa harus dibatalin. Lucu, ya?!

Jujur gue kagum ngeliat kehidupan di Desa Sade yang sederhana banget. Laki-laki disana mata pencaharian utamanya bertani, dibantu oleh para istri yang menjual kain hasil menenun. Tempat tinggal mereka masih terbuat dari tanah lempung yang dicampur dengan kotoran kerbau, dibentuk menjadi bangunan rumah sederhana dengan aliran listrik yang sangat terbatas. I mean, it’s 2017 bruh?! Coba deh bandingin sama kehidupan kita sehari-hari. Kita kalo lupa bawa henfon sehari aja kelimpungannya udah kayak apaan, sedangkan mereka bisa tuh hidup dengan lifestyle yang super sederhana.

Desa Sade - Bertiga

Desa Sade 2

Desa Sade - Menenun
Diajarin menenun juga sama ibu-ibu disana

Desa Sade - Icha

Kalau ada yang tertarik main ke Desa Sade, tinggal cari aja lokasinya di Google Maps/Waze pasti langsung ada kok. Nggak ada biaya tiket masuk, cukup bayar tour guide-nya aja dan itu juga terserah besarannya berapa, tinggal disesuaikan aja sama jumlah orang yang ikutan tour-nya.

Selesai dari Desa Sade, hari udah semakin sore dan kita bertiga kelaperan banget karena belum sempet makan siang. Akhirnya kita putuskan untuk jalan aja dulu ke arah bandara dan cari makan di deket-deket sana. Ternyata… Sepanjang jalan ke bandara kanan kiri nggak ada apa-apa… Boro-boro McD atau KFC, sekedar warung nasi atau rumah makan Padang juga nggak ada.

Akhirnya kita nyerah cari makanan karena nggak kerasa udah mau nyampe aja ke bandara. Eh, nggak taunya ada satu rumah makan di sebelah kiri jalan, di seberang bandara namanya RM Cahaya ‘Nasi Balap Puyung’! Bodo amat deh itu makanan apa, kita langsung triak-triak kesenengan sambil cepet-cepet melipir di rumah makan itu. Ternyata pas gue Googling, nasi balap puyung itu salah satu makanan khas juga di Lombok. Terus pas baru banget duduk di restorannya temen gue di Jakarta ada yang chat gue, dia bilang si RM Cahaya ini enak banget. Mantap lah nggak salah pilih tempat!

Di menunya ada beberapa pilihan nasi balap. Karena perut udah kruyuk-kruyuk, gue dan yang lain nggak pake mikir langsung pilih menu yang keliatannya paling menarik: Nasi Balap Puyung + Ayam Goreng. Pas liat daftar harganya kaget juga, rata-rata menu makanan di restoran ini harganya cuma 12.000 sampai 20.000-an.

Nasi Balap Puyung
Nasi balap puyung tuh kayak gini. Btw ini fotonya ngambil dari Google karena lupa foto.

Selesai makan, kami langsung bergegas ke bandara untuk menunggu pesawat disana.

***

Well, we were so galau that this eventful trip has sadly come to and end (and we had to go to work the next day). Gue sangat berharap setelah ini masih ada trip-trip selanjutnya dengan sahabat-sahabat gue, mumpung semuanya masih single kan.. I also promise myself that I would write more stories about us in this blog, so it could be documented nicely and we can always go back to it whenever we want to remember the moments.

Thank you very much for reading my story! Go plan a vacation, a weekend getaway, a two-day staycation, or whatever with your best friends NOW!

Cheers ❤

 

Three Days in Lombok (Part 1)

Disclaimer: it’s going to be a long post. So, be sure you have a bowl of popcorn, herbal tea, or a plate of gorengan with you!

Pada suatu Kamis sore yang mendung di kantor Pejaten, tiba-tiba gue mendapat telfon dari salah satu sahabat gue, Yuan.

Y: “Al, lo mau gantiin gue nggak besok pagi berangkat ke Lombok? Ternyata gue ada ujian hari Senin, jadi gue nggak mungkin berangkat besok”

A: “…hmm hah gimana, gimana?!?!?”

Singkat cerita akhirnya gue mengiyakan tawaran Yuan yang sangat baik itu. Tiket pesawat dan hotel satu malam udah siap, jadi gue tinggal berangkat aja. Gila, kurang baik apa?!? (Yuan, if you’re reading this.. I’m wishing you best of luck for your upcoming exams. Love you so much!) 

Awalnya gue panik karena 1.) belum ngajuin cuti, 2.) belum izin orang rumah, 3.) belum packing, belum tau mau pake baju apa ke pantai karena gue baru aja pake kerudung, dan masih banyak belum-belum lainnya. Tapi untungnya gue punya bos sangat baik, setelah gue ceritakan sejujur-jujurnya akhirnya gue diizinin ambil cuti mendadak. Masalah lain gampang deh diberesinnya asal udah dapet izin kantor. #YAASSS

Setelah stres milih baju dan packing sampai jam dua pagi, berangkatlah gue ke Lombok bersama dua sahabat gue lainnya, Yayang dan Icha. Rencananya kita bertiga akan stay di Lombok sampai hari Minggu malam. Satu hari nginep di daerah Lombok Timur, satu malam lagi di daerah Senggigi.

Ok, pertama gue mau share pengalaman nginep di Lombok Timur. 

Sebetulnya awal mula rencana teman-teman gue ke Lombok adalah karena mereka pingin coba nginep di satu resort ini yang katanya keren banget, namanya Jeeva Beloam Beach Camp. Karena perginya mendadak, jadinya gue nggak sempet googling tentang tempat itu sama sekali. So I didn’t really know what to expect. Dari bandara kita langsung cus ke TKP naik mobil sewaan. Karena kita nggak tau jalan sama sekali di Lombok, jadilah kita mengandalkan inovasi bernama Google Maps. Ternyata perjalanan ke daerah Lombok Timur tuh jauh banget! Kira-kira butuh waktu dua jam dari bandara sampai kesana.

Untungnya nyetir di Lombok tuh menyenangkan banget ya, NGGAK ADA MOBIL. Well, ada sih.. Tapi ya paling cuma dua tiga mobil aja yang lewat, beda banget sama di Jakarta. Jadi gue yang dapet kebagian pegang setir tetep bisa mengemudi dengan bahagia sambil sing along. Walaupun ngeri juga karena tiba-tiba suka ada anjing kampung nyebarang mendadak, walaupun bisa ngebut tetep harus hati-hati.

Udah makin dekat ke daerah Lombok Timur, ternyata perjalanan kita sudah tidak seindah di awal! TIBA-TIBA JALANAN JADI OFF ROAD BERBATU PENUH GUJLUKAN BIKIN MUAL. Ditambah mobil sewaan kita ‘gede’ banget lagi, Toyota Agya. Alhasil nyetirnya harus pelan-pelan banget supaya bagian bawah mobil nggak gesrek dan Yayang nggak muntah.

Setelah kira-kira dua jam nyetir dari bandara ke Lombok Timur, akhirnya sampai lah kita di Jeeva Beloam Beach Camp! Pintu masuk-nya mirip gerbang utama wisata Jurassic Park gitu lah. Kanan kiri rumput ilalang, lurus ke depan nggak ada apa-apa selain jalan berbatu dua arah. Agak takut tiba-tiba muncul buaya sih?!

Sesampainya kita di pintu masuk, langsung disambut ramah sama dua mas-mas disana. Kami dibawa ke resepsionis yang bentuknya kayak rumah pondok gitu.

Sebelum diantar ke kamar, kita dijelasin dulu aktivitas apa aja yang bisa dilakukan di tempat ini. Ternyata harga permalam itu udah termasuk berbagai aktivitas. Ada snorkeling, cycling, short trekking, kayaking, dll. Selain itu harganya juga udah termasuk makan tiga kali sehari untuk dua orang.

Setelah check ini kita memutuskan untuk lunch dulu di restoran karena saat itu udah jam 3 sore dan kita kelaperan banget. Jujur menurut gue makanannya biasa aja dan agak overpriced. Tapi ya gimana berhubung kita lagi di tengah hutan jadi mau nggak mau harus makan di hotel, guys. Antara makan makanan hotel atau nyeduh pop mie.

DSC02112
Lupa foto makanan yang lain. Ini contoh appetizernya, papaya salad

DSC02113

Jeeva Beloam Dining
Yang ini ngambil dari Google

Sambil diantar ke kamar, mas-masnya bilang kalau kita akan dapat kamar dengan pemandangan langsung ke arah pantai. Katanya sih ini salah satu kamar yang punya best view.

Pas liat kamarnya, OMG… Hamba terpana. Bagus banget gila ya! Bentuk kamarnya kayak cottage gitu, depan kamar pemandangannya langsung pantai yang sepi hampir nggak ada orang. Dekorasi kamarnya semua serba kayu, konsepnya sengaja dibikin senatural mungkin. Huahh hepi banget!

DSC02380
Ini balkon kamarnya. Look at the view!

Setelah selesai taro koper dan bersih-bersih, kita keluar untuk main di pantai dan foto-foto.DSC02391

DSC02484DSC02487
Tadinya abis foto-foto kita pingin langsung sepedahan, tapi nggak taunya hujan. Akhirnya kita putuskan untuk leyeh-leyeh di balkon depan kamar, ngobrol ngalor ngidul sambil ngeliatin hujan. Awalnya kita bertiga para generasi #millennials ini uring-uringan sendiri karena nggak bisa buka Instagram dan sosmed lainnya. Karena posisinya di tengah hutan jadi boro-boro ada internet, listrik aja dijadwalin.

Tapi di sisi lain waktu yang kita habiskan jadi berkualitas banget. Cerita-cerita lucu jaman SMA, ngayal-ngayal jodoh, curhat-curhat nggak penting, dan lain-lain. Sering kan kita nempel banget sama gadget dan sosmed, tapi kalau dipikir kita nggak butuh lho hal-hal tersebut untuk bikin kita happy. Quality talk disaat trip sama teman-teman kayak gini tuh penting banget, ya nggak sih?! Kapan lagi coba?! Mumpung masih single, masih banyak waktu yang bisa dihabisin bareng temen-temen, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebelum menyesal.

*ngetik sambil scrolling Instagram*

Malemnya seharusnya ada api unggun di dekat pantai, tapi karena masih hujan jadi terpaksa dibatalin. Akhirnya setelah makan malam, kita bertiga leyeh-leyeh lagi di balkon, haha hihi ngalor ngidul, kemudian pergi tidur tepat jam sepuluh malam ditemani suara desir ombak *woosh woosh*

Indahnya hidup ini.

Besok paginya kita bangun jam lima pagi karena udah janjian mau dijemput sama mas-mas tour guide untuk short trekking ke bukit sebelah untuk liat sunrise. Beralaskan sendal gaul (nggak bawa sepatu) kita mulai lah pendakian bukit yang walaupun cuma lima menit kecapeannya lebay udah kayak Resee Witherspoon di film Wild.

DSC02326

DSC02337

DSC02334
Princess di bukit

Turun dari bukit, kita langsung pergi sarapan, kemudian balik ke kamar untuk mandi dan packing. Nggak kerasa udah hampir jam 12 aja, and that’s the end of our stay in Jeeva Beloam Beach Camp. Oh, I wish I could stay there longer..

Masih banyak banget aktivitas yang belum dicobain disana. Kita nggak sempet snorkeling, kayaking, dan lain-lain. Gue bertekad akan nginep disana lagi kapan-kapan, with my (ehem) future husband, perhaps?

…stay tuned for our next fun experience in Senggigi!

My Current Must-See-Movies

Gue suka banget nonton film. Sesuka itu. Gue juga suka banget diskusi tentang film yang udah gue tonton. Nah, kali ini gue mau sharing beberapa film yang baru gue tonton belakangan ini. Genre-nya macem-macem, ada horor, drama, biographical, dll. Tapi yang pasti bukan film action dan super hero, karena walaupun gue terbuka banget sama beragam genre film tapi yang dua itu gue nggak pernah bisa suka.

Berharapnya sih abis gue sharing disini ada yang tertarik untuk diskusi film-film ini sama gue. Ok, jadi inilah film-filmnya:

Lion

Lion

Jadi film ini ceritanya tentang seorang laki-laki asal India bernama Saroo yang kesasar di sebuah stasiun di India pas umurnya 5 tahun. Pokoknya dia terbawa ke tempat yang jauh dari rumahnya dan nggak tau gimana cara pulang ke tempat asalnya. Akhirnya dia harus terluntang-lantung di suatu kota sendirian, sampai akhirnya dia diadopsi sama pasangan suami istri asal Australia dan dibawa ke Tazmania. Kalau mau tau kelanjutannya silahkan nonton filmnya sekarang.

Menurut gue yang bikin film ini keren banget adalah ini tuh based on true story! Kalau yang mau nonton gue saranin siap-siap mewek, karena banyak adegan mengharukan.

Highlight of the movie: Dev Patel ganteng banget.

Dev Patel
The real rempah-rempah hottie.
dev_patel
Dulunya biasa aja

Hidden Figures

hidden_figures

Ini juga based on true story! Tapi kayaknya sih lumayan di dramatisir nih kalo film yang ini. Bagi Anda yang membutuhkan shot of inspiration or motivation silahkan nonton film ini segera. Ceritanya tentang tiga sosok perempuan kulit hitam yang paling berpengaruh di NASA.

hidden figures
Marry Jackson, Katherine Goble, Dorothy Vaughn

Gue selalu suka film yang mengangkat isu segregasi orang kulit hitam di Amerika tahun 60an. Miris banget saat tau bahwa dulu tuh Amerika segitu rasisnya! Hmm.. Sekarang juga masih sih. Tapi dulu tuh parah banget. Film ini agak mengingatkan sama film The Help, udah ada yang nonton belom? Jadi diliatin banget gimana orang-orang kulit hitam dulu jadi korban diskriminasi. Separah sampai kamar mandi aja dipisah, ada yang buat white dan ada yang buat coloured kalau dulu istilahnya.

Taraji Henson disini oke banget aktingnya. Super ngefans.

It Follows

it follows

Kalo yang ini bukan film baru, gue juga nontonnya kira-kira dua bulan yang lalu lah. Alasan pertama gue nonton It Follows adalah karena waktu itu gue nge-google ‘the scariest movies of 2016’ apa kalo nggak salah. Taunya film ini muncul di list-nya, yaudah deh gue langsung nonton. Kali ini gue bener-bener nggak mau ngasih tau filmnya tentang apa, lo harus nonton sendiri. Lagian mau ceritain alur ceritanya juga agak bingung sih, soalnya rada aneh dan kompleks kalau untuk diceritain.

Kalau yang suka film horor dan belum nonton ini, you’ve missed a lot man. Gue tuh sebenernya kurang suka film horor yang hantunya bener-bener nyata, keliatan, terus ngejar-ngejar gitu. Kayak Valak gitu misalnya. Nggak tau kenapa malah jadi nggak begitu serem buat gue. Gue lebih dapet sama film horor yang ngasih kita perasaan nggak nyaman, padahal hantunya bukan yang diliatin secara jelas dan penampakannya ngeri gitu. You know what I mean? Nah, It Follows tuh tipe film yang kayak gitu.

Pokoknya abis nonton ini perasaan gue jadi nggak enak dan jadi punya imajinasi yang nggak-nggak. Hiiii.. Susah ah jelasinnya, mending lo nonton sendiri aja ya.

La La Land

La La Land

Lah, mainstream amat? Hahaha. Gimana dong, gue nggak bisa melupakan film yang sangat gue cintai ini. Kayaknya jarang deh orang yang belum nonton La La Land? Ya nggak sih? Soalnya kan film ini udah jadi kayak fenomena besar gitu, heboh banget. Banyak yang suka, banyak juga yang nggak. Kalau gue masuk ke orang-orang yang suka BANGET. Mungkin karena pertama gue sangat cinta film musikal, jadi pas disuguhin film musikal modern macam ini gue benar-benar bahagia. Selain itu gue juga suka alur ceritanya, apalagi endingnya. Nggak hanya karena endingnya tuh agak mirip sama kisah cinta gue (hmm..), tapi ya penggambarannya emang bagus banget! Visualnya bagus, dialognya bagus, wardrobe-nya bagus, musiknya bagus, semuanya on point.

Satu hal yang gue sayangkan. Ini kan film musikal yang biasanya identik sama nari-nari. Nah menurut gue La La Land tuh koreografinya kurang banyak. Adegan favorit gue tuh yang awal-awal, yang ada orang banyak banget, kejebak macet terus mereka semua nari-nari. Nah, kalau dilihat dari keseluruhan film nggak banyak koreografi yang kayak gitu.

Tapi tetep keren sih, well done Damien Chazelle!

Manchester by the Sea

manchester_by_the_sea

Ini tipikal film yang masuk nominasi Oscar banget sih. Film yang durasinya lama, konfliknya ada tapi cenderung nggak di dramatisir. Tapi somehow gue tuh bisa banget merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan sama Cassey Affleck di film ini.

Kayaknya nggak seru kalau gue ceritain inti ceritanya disini, tapi pokonya film ini menceritakan tentang perjalanan hidup seseorang yang mengalami trauma karena suatu kejadian yang menimpai dirinya beberapa tahun silam. Bagaimana trauma itu berpengaruh ke caranya berperilaku dan berpikir dalam kehidupan sosialnya.

Film-film kayak gini menurut gue menarik banget untuk kita observasi dan analisa, karena seluruh adegannya terasa natural. Misalnya kayak, kenapa sih si  karakter A ngomong kayak gini? Oh.. Ternyata karena dulunya tuh dia gini. Kenapa sih si B kok nggak mau diajak ini?! Oh, soalnya dia pernah ngeliat kejadian ini. Gitu-gitu lho.

***

Lima dulu deh ya, nanti kalau kepikiran gue mau bikin lagi ‘My Current Must-See-Movies’ jilid dua. Gue udah bertekad untuk nonton semua film-film yang masuk nominasi Oscar tahun ini. Masih banyak banget yang belum gue tonton! Ada Moonlight, Jackie, Arrival, Hacksaw Ridge, Fences, dan lain-lain wah banyak banget!

Kalau yang udah nonton, plis plis komen dibawah opini kalian mengenai film-film diatas. Ada yang pendapatnya sama dengan gue? Atau malah beda banget? Yuk mari kita diskusikan bersama. Terima kasih yang udah baca!

 

Moi Dream House

If I ever have my own house someday, it would be great to have a place that looks something like Lena Dunham’s.

I was in a complete awe when I saw her crib on 73 Questions with Lena Dunham video on Vogue’s YT channel. It’s classy, yet quirky, bright, unique, colourful kind of house. I don’t know how to describe it in words but all I know that it’s uber cool.

lena-dunham

Watch the video here.

Can I get a house like that Daddy? Pretty please?